NUANSA IMAN

KOMUNITAS KELUARGA ALLAH YG DEWASA & BERTUMBUH DALAM SEGALA HAL KE ARAH KRISTUS
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Desember 2012

I M M A N U E L

@ by Daniel Kurniawan

(Matius 1:21 – 23)

Beberapa waktu yang lalu, antara Pati-Kudus, saya melihat ada seorang bapak penjual tanaman hias.Biasanya : Jemanii, Adenium, Euphorbia sampai Gelombang Cinta. Saya nggak tahu kenapa dinamakan “Gelombang Cinta”, …… apakah cinta itu memang "kelak-kelok" bagaikan gelombang..? Yach.. saya ndak tahu, tapi itulah namanya. Nama yang bagus, bentuk bagus, simbol kebanggaan. Bayangkan … berpuluh jut, pasti ada kebanggaan tertentu. Betul ? 

Nah yang unik dari bapak penjual ini, ..adalah jenis tanaman hias yang di jual. Jenis apa sdr ? Namanya bagus sekali, “Rafflesia”, ...Orang yang tidak tahu, bisa jadi tertarik….  Tapi buat saya, di kasihpun “ndak mau”. Mengapa ? Karena saya tahu dan pernah punya tanaman ini. Yang membuat saya ”trauma” adalah baunya yang ..”Audzubillah himinasaito nirozim”....  seperti bangkai. Makanya di Indonesia nama bunga ini adalah ”Bunga bangkai”. Namanya sih keren, bentuknya sih beken, namun baunya.... bisa bikin orang ”mblenger”. Saya heran, kok ada-ada saja orang yang jual tanaman ini.

 Nah Bp/Ibu sekalian...... seorang pujangga besar, ”William Shakespeare” pernah berujar ”Apalah sih artinya sebuah nama ..... sekalipun mawar berganti nama, toh ia tetap berbau harum”.Pada satu sisi, mungkin kita setuju dengan ungkapan ini. Apalah artinya nama jika tidak sesuai kenyataan. Betul khan ? 

Pernah di beritakan di Kupang, ada seorang ibu anggota DPRD dari Partai berbasis kristen, namanyapun jelas kalau dia kristen, tapi ..... kena ”grebek” di sebuah hotel karena selingkuh. Malu nggak ? Malu.... sudah kristen, pejabat lagi..... harusnya jadi panutan, lha kok ini malah memalukan. 

Apalah arti nama ”Budiman”, kalau orangnya kejam tak berbudi dan tak punya belas kasih. Apalah artinya nama ”Gunawan” jika dia cuma ”Gundul dan menawan” namun tidak menjadi orang yang berguna ? Cocok nggak ? Itulah sebabnya, Shakespeare berkata ”apalah artinya sebuah nama”, yang penting bukan namanya tapi kualitasnya. Pada satu sisi, kita boleh saja setuju.

Namun pada sisi lain, bukankah kita hidup dalam dunia dimana ”Nama” bukan sekedar ”label” atau ”merk dagang”. Di balik satu nama, di dalamnya juga terkandung identitas – jati diri bahkan harapan-harapan.

Ketika orangtua memberi nama anaknya, tentu nggak sembarangan. Jarang ada yang kasih nama anaknya itu ”Kawuk, Bogel, Teplok , Pesek”. Jarang.... ini nama poyokan, nama sesungguhnya mungkin ”Wibowo Prakoso Adi Wicaksono”. Cie... keren khan. Di balik nama ini, orang tua punya harapan agar dia menjadi orang yang kuat, berwibawa, utama dan bijaksana. Lha kok jadi ”Kawuk” ? Ya nggak tahu... mungkin merasa saking kuatnya, ora tedhas tapak paluning pande, memolo ora tekho, Leloro podho lungo ”bablas angine:..... ”Wes ewes-ewes” kata alm.Basuki trus merasa nggak perlu mandi, Lha jadinya malah....Kawuk ! repot khan .... orang bilang, ”Kapan mbancakine ?”
 
Nah Bp/Ibu yang terkasih... mengapa saya tertarik ngomong soal nama ? Karena bagi budaya kita, maupun budaya Alkitab... nama itu memiliki makna. Demikian juga ketika Maria sedang mengandung bayi Yesus, Para nabi ratusan tahun sebelumnya sudah bernubuat : ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita” . Nama Yesus itu sendiri berarti ”Allah penolong kita”, jadi apa yang dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya sungguh-sungguh terwujud pada diri Yesus, Ia adalah penolong, Allah yang menyertai kita. Sang Immanuel. 

 Ini adalah sebuah NAMA, bukan mantera. Bukan otomatis kalau orang berkata ”Immanuel”, maka Allah akan menyertai dia, apapun yang dia lakukan. 

Pernah suatu saat, ketika bangsa Jerman sedang jaya-jayanya. Mereka merasa diri mereka sebagai ”kaum yang terunggul di antara semua manusia”. Tindakan mereka begitu kejam, terlebih ketika mereka berusaha memusnahkan ribuan orang Yahudi. Jelas bukan tindakan manusiawi dan patut dipuji. Namun yang luarbiasa, orang-orang Jerman ini memiliki ”moto” yang ditulis di tiap ikat pinggang prajurit Jerman yaitu ”Goot Mit Uns” yang artinya ”Allah menyertai kita”. Luar biasa bukan ? Bagaimana mereka bisa berpikir bahwa Allah menyertai mereka dalam membunuh, menyiksa, melakukan ketidakbenaran dan ketidakadilan ? Jika memang demikian.... tentu kita akan bertanya-tanya, ”Allah seperti apa yang berpihak pada para penindas dan orang-orang yang tidak berperikemanusiaan ini”.  Yg jelas, bukan Allah yg kita sebut ” Immanuel” itu.  Mengapa ?

 (1) Kehadiran Allah sbg manusia pada diri Yesus merupakan satu pernyataan bahwa Allah tidak menghendaki adanya permusuhan. 

Suatu ketika ada seorang bapak yang sakit dan hampir mati. Orang ini punya banyak sekali musuh, seneng padu. Seneng geger. .... Nah karena sudah ”kejet-kejet”, keluarganya mengambil inisiatif untuk memanggil orang-orang yang punya dendam terhadap orang ini. Mikirnya, daripada mati nggowo dosa, khan bagus kalau dibereskan sebelum terlambat. Orang-orangpun datang. Karena bapak ini masih kejet-kejet, keluarga lalu ngomong ”Atas nama bapak, kami minta maaf untuk semua kesalahan bapak kepada saudara-saudara. Dimaafin ya ? Damai ya, Bapak Ibu ? ” Gitu kata anak-anaknya. Orang-orang pun mengangguk... ya..ya damai.... kosong-kosong. Eh... rupanya meskipun ”kejet-kejet”, bapak ini masih nekad ngomong..... ”enak aja damai Dadio godhong moh nyowek, dadio banyu moh nyawuk”. Yo wis..... inget, itu cuma berlaku kalau aku jadi mati, kalau enggak..... awas lu !

Nah ini menungso sdr... seneng musuhan. Tapi Allah tidak demikian. Sekalipun manusia jatuh dalam dosa, dan itu berarti hubungan manusia dan Allah terputus. Namun Allah tidak mau membiarkan permusuhan ini terjadi terus. Allah suka damai, Allah ingin memulihkan hubungan yang putus. Karena itulah Allah mau jadi manusia supaya Allah dan manusia menjadi dekat kembali. Immanuel, berarti Allah hadir, menyertai kita dan memulihkan hubungan kita dengan Allah. Dengan kelahiran Yesus, berakhirlah zaman Allah melawan kita dan zaman kita tanpa Allah ... dan mulailah zaman baru, yaitu Allah menyertai kita dan Allah bersama-sama kita.  Ada Perdamaian di balik Nama Immanuel. 

Jadi kalau kita mengaku Yesus sebagai ”Immanuel” tapi masih seneng tukaran, padu, musuhan....... maka nama Immanuel, ndak artinya buat kita. Kayak Rafflessia, apik ning badhek.

(2) Kehadiran Yesus yg disebut Immanuel juga menunjukkan keprihatinan dan keperdulian. 

Kalau kita lihat kisah Natal, ada sesuatu yang menarik. Maria yang dipakai Allah untuk mengandung bayi Yesus, bukan orang yang kaya, demikian juga Yusuf. Saat Yesus dilahirkan, bukan di hotel berbintang atau Rumah Sakit profesional, tapi di sebuah kandang, kotor, apek . hanya berbungkus kain lampin, springbednya pun cuma palungan, tempat makan ternak. Tamu yang datang menyambangi, memang ada orang majus yang pandai dan kaya... namun jangan lupa, yang pertama datang justru ”tukang angon”.
 
Lho.... apa Allah nggak bisa pilih tempat dan cara lain yang lebih terhormat ? Bisa sdr... tapi memang inilah yang dipilih Allah, bukan karena terpaksa melainkan inilah tanda bahwa Allah prihatin dan perduli kepada kemiskinan, kesederhanaan, kehinaan... kepada orang-orang yang susah, baik secara ekonomi maupun hati. 

Bukankah hal-hal seperti ini yang sering membuat hidup jadi nggak tenang, kuatir, tidak ada damai, kemrungsung lsp.
Kalau mau jujur, sebetulnya kita gampang kok terganggu. Hal-hal yang kecil saja bisa mengganggu dan merebut ketenangan hidup kita.

Saya pernah mengikuti sebuah kebaktian Natal. Suasana dibuat tenang teduh dan khidmat. Anak-anak kecil sudah disediakan acara terpisah supaya tidak ribut dan mengganggu.  Tapi ndelalah sdr..... di tengah-tengah acara, ada tetangga asyik nggoreng “gereh”. Dia nggak ribut, tapi bau “gereh” sing ”brang-breng” sedeep ini rupanya bisa merebut konsentrasi. Di sana-sini terdengar suara ”Kruuk”.... suara perut lapar. Gangguan telinga bisa dihindari, tapi gangguan hidung rupanya tidak bisa dibatasi tembok. 

Sekarang ini banyak orang yang hidupnya tidak tenang..... ada yang karena materi yang pas-pasan, ada yang karena situasi sosial yang tidak mendukung – seperti Maria dan Yusuf yang ditolak di penginapan, atau seperti para gembala yang terisolir dari masyarakat, ada yang disebabkan karena berbagai persoalan ........ nah, kepada mereka inilah, Yesus lahir dan disebut Immanuel. Artinya, Allah memperdulikan anda... Allah tidak membiarkan kita menghadapi semua kesulitan itu sendirian. Ia disebut Immanuel, karena memang ia menyertai kita; dan namaNya disebut Yesus karena memang Allah adalah penolong kita. NamaNya bukan Nama omong kosong..... 

Jadi Bpk/Ibu....ketika kita merenungkan Natal dan mengingat Nama Yesus Sang Immanuel, maka kita melihat bahwa : Sebenarnya melalui Natal, Allah menyodorkan kepada kita suatu PENGHARAPAN. Pengharapan bahwa hidup kita ini diperdamaikan dengan Allah, dan pengharapan untuk menjalani hidup ini dengan Damai Sejahtera. 

Itulah sebabnya Natal menjadi saat penuh sukacita, karena kelahiran Sang Immanuel telah mengubah hidup kita menjadi hidup yang penuh dengan harapan, hidup yang berarti – baik di bumi maupun kelak di surga.

SELAMAT NATAL


With Love in Christ
 Daniel Kurniawan

 

Rabu, 05 Desember 2012

PERCAYA YESUS, NIKMATI KEMENANGAN



” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,  oleh Dia yang telah mengasihi kita.”
(Roma 8:37)
                 
          Suatu saat ada seorang bapak dari dusun sedang sakit. Biasanya kalau sakit, larinya ke ”orang pinter” (dukun / paranormal). Cukup di sembur atau minum air putih yang di jopa-japu…. Tapi kali ini oleh anaknya – yang lebih modern - ia di suruh ke dokter. Nggak sembarang dokter, tapi dokter spesialis. Meskipun dia nggak percaya kalau dokter bisa mengobati, tapi berhubung karena dipaksa… yach, apa boleh buat. Diapun pergi ke dokter.

Pertama ketemu saja sudah jadi masalah. Ketika dokter bertanya, “Bapak, sakit apa ?”. Bapak ini malah marah, “Lho sampeyan itu gimana, yang dokter khan sampeyan bukan saya… mestinya sampeyan yang ngasih tahu, saya ini sakit apa. Bukannya malah tanya ? “ Tapi untung saja dia ketemu doker yang sabar, maklum ngedepi wong dusun… harus ekstra sabar. Dokter ini cuma berkata, “Pak, satu-satunya dokter yang nggak pernah tanya sama pasiennya itu cuma dokter hewan… saya ini dokter manusia”.

Akhirnya bapak inipun ngalah. Dia menceritakan keluhan-keluhannya. Ini yang sakit, itu yang sakit dan seterusnya. Setelah memeriksa, dokter inipun menulis resep.. diserahkan kepada bapak ini, “ini pak, semoga cepat sembuh !”. Bapak inipun pulang.

Beberapa hari kemudian anaknya tanya, “Bagaimana pak, sudah sembuh ?”. Bapaknya pun menjawab, “Sembuh apaan… malah loro weteng yo iyo”. “Lho kok bisa ?” tanya anaknya. “Lha iya, lha wong bapak ini cuma dikasih kertas, kertase tak makan..malah loro weteng. Doktere guoblok !”. “Oalah  Pak..Pak.. itu RESEP, bukan obat”.

Kita semua tahu bahwa kita hidup pada era globalisasi. Dan saya yakin anda pasti lebih tahu dari saya, apa ciri-ciri dari zaman ini. Salah satu cirinya adalah bahwa manusia maunya serba cepat dan nggak mau repot. Zaman instant.. karena itu produk-produk yang muncul juga dibuat instant. Mie Instant, Kopi Instant…. Cukup “Cuur” air anget.. jadi deh. Bikin nasi goreng.. ada bumbu instant, nggak perlu repot ngulek sambel yang bisa kecampur kringet. Restoran ? Fast Food… siap saji, nggak buang-buang waktu. Maunya semua serba cepat dan mudah. Sampai-sampai sakit, maunya pulang dari dokter langsung sembuh. Ini memang salah satu tanda kemajuan jaman, namun pada sisi lain, mau tidak mau terbentuklah manusia-manusia yang tidak siap menghadapi kesulitan. Manusia-manusia yang enggan berjuang untuk mencapai tujuan.

Padahal ciri lain dari jaman ini adalah semakin ketatnya persaingan. Kata kunci dalam era persaingan adalah “menang”. Jika anda menang, maka anda akan melesat maju. Namun jika kalah, andapun akan tersingkir.  Namun dengan mental seperti tersebut di atas, orang lalu maunya menang tanpa kesulitan. Maunya nggak usah repot, nggak usah susah-susah.. tapi dapat menikmati kemenangan, keberhasilan dan kesuksesan.

Nah, Saudara ….. ketika kita mencermati thema ini “Percaya Yesus, nikmati kemenangan”, kesan apa yang kita dapatkan ? Mudah atau sulit ? Mudah…. Tinggal percaya kok. Seperti sebuah lagu Jawa yang terkesan menunjukkan betapa enak dan mudahnya jadi orang Kristen : Kalau “Pracoyo Gusti Yesus” maka “Setan ora doyan, demit ora ndulit, leloro podho lungo, amargo pracoyo…. Masih ditambah “Rejekine teko, saben dino begjo, tumrape sing pracoyo Yesus”. Enak nggak saudara ? Uenak banget… modale cuma ? Pracoyo Gusti Yesus.  Yach.. saya menghargai lagu ini sebagai salah satu ekspresi iman. Memang bukan hal yang mustahil…. Namun “Menikmati Kemenangan sebagai buah dari iman/percaya” apakah memang semudah itu ?

“Hidup ini”, kata Paulus, “Bagaikan sebuah pertandingan”. Namanya pertandingan, orang tidak cukup punya motivasi menang, namun orangpun harus berjuang. Dan ini bukan sesuatu yang mudah, bukan hanya pada waktu pertandingan orang harus berusaha dengan keras untuk menang, namun pada saat tidak bertandingpun, seorang atlit sejati harus terus berlatih.

“Hidup ini” kata Paulus “Bagaikan kehidupan seorang petani”. Sebelum bisa menikmati hasil pertanian, seorang petani tidak bisa santai-santai. Ia harus berusaha, menjaga tanamannya, mengobati jika ada hama. Tidak bisa seorang petani berkata, “Hari aku menabur benih, besok pagi aku menuai hasil”

“Hidup ini” kata Paulus dalam kesempatan lain, “Bagaikan seorang prajurit”. Nah ini lebih nggak enak lagi. Dimana seorang prajurit bisa mempeoleh kemenangannya ? Bukan di gedung bioskop, bukan di mal-mal, bukan ditempat rekreasi. Tapi di medang perang, diantara “hujan peluru” dengan nyawa sebagai taruhannya.
Jadi “Kemenangan Orang Percaya” sebagaimana disaksikan oleh Firman Tuhan bukanlah kemenangan yang mudah. Lihat saja Tuhan Yesus. Untuk bisa menang atas maut, Yesus harus menempuh perjuangan dan penderitaan yang tidak mudah. Sejak awal Yesus lahir di dunia, tantangan dan kesulitan sudah menjadi bagian kehidupanNya. Orang tua mana yang mau melahirkan anaknya di kandang kalau bukan karena kepepet ? Tapi Yesus, saat masih bayi saja sudah mengalami apa arti kehinaan, penolakan dan keterbatasan. Palungan, kain lampin, kandang… semua ini bukan simbol kenyamanan dan kemudahan, bukan simbol prestasi dan kekuasaan.

Kita seringkali kagum melihat orang-orang yang sukses, yang kaya dan terhormat. Lalu tak jarang, kitapun ingin demikian. Namun orang seringkali hanya melihat pada kesuksesan mereka, dan lupa bahwa untuk dapat sukses, merekapun tidak jarang harus mulai dari nol. Dari perjuangan yang berat. Bahkan bisa jadi, “merangkak dari bawah”. Orang mau suksesnya, tapi perjuangannya ?? Nanti dulu….

Yesus memang sudah menyediakan kemenangan bagi orang-orang percaya. Kemenangan yang telah di raih oleh Yesus. Oleh anugerahNya, II Kor 2:14 mengatakan bahwa kita diletakkan Allah pada “Jalan Kemenangan”. Karena itulah dengan sukacita kita bisa menyanyi “Kitalah Umat Pemenang…” Karena itulah kita bisa berkata “Kumenang-kumenang bersama Yesus Tuhan”. Karena kemenangan ini memang di sediakan Tuhan bagi saudara dan saya.   I Yohanes 5:4-5 mengatakan : “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah”. Karena itulah kitapun bisa berkata bahwa : “kita lebih dari pada orang-orang yang menang” (Roma 8:37). Namun benarkah memang semudah itu ?

Dalam Roma 8:37 dikatakan : “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yg menang, oleh Dia yang telah mengasihi”. Kata “TETAPI” menunjukkan adanya satu kondisi yang bertolak belakang dari apa yang dikatakan oleh ayat ini. Kalau ayat ini berbicara tentang “Kemenangan”, maka kondisi sebelumnya justru berbicara tentang keadaan yang menurut “kacamata” dunia, layak di sebut “Kekalahan”. Kondisi seperti apa ? Ayat 22 “Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin”. Ayat 35-36 berbicara tentang Penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan,  bahaya, pedang. ? Satu situasi yang jelas tidak menyenangkan... tetapi “DALAM SEMUANYA” kita lebih daripada pemenang. Apa artinya ?

   Kita semua tahu, dan sayapun yakin, kita semua pasti pernah mengalami apa yang disebut suka maupun duka, apa yang disebut tawa maupun tangis, sukses ataupun gagal. Ada diantara anda yang sepanjang tahun 2006 isine seneng thok ? (Ndak ada khan ? itu baru satu tahun... kita ini rata-rata usianya sudah puluhan tahun). Kita semua pernah mengalami itu, soal mana yang lebih banyak... itu lain soal. Tapi yang pasti hidup ini tidak cuma seneng dan tidak cuma susah. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam hidup manusia. Kalau ada yang bertanya, “Pak, piye carane supaya hidup saya seneng terus ?”. Jawaban saya gampang... “Nggak usah hidup”, lha wong hidup kok maunya seneng thok. Ndak ada. Besok kalau di sorga baru ada. Susah thok ? juga nggak ada, Besok kalau di neraka baru ada.

Hidup terdiri dari keduanya. Tidak bisa dielakkan. Tidak bisa ditawar. Karena itu jangan buang-buang energi untuk menolak atau menangkalnya. Jauh lebih bijaksana jika kita bersikap lebih arif dengan menerima sadar dan mengusahakan yang terbaik daripadanya.

Ada sebuah doa yang menarik yang di tulis oleh Frederick Oetingen dari Koblenz, Doa ini berjudul “The Serenity Prayer” kalimatnya begini :

Tuhan karuniakan kepadaku ketulusan hati/ketenangan
untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah,
Berikan  kepadaku keberanian
Untuk mengubah apa yang dapat aku ubah, dan
Berikan padaku kebijakan untuk mengetahui perbedaannya.

Yang terakhir ini maksudnya jelas : Jangan ngotot pingin mengubah apa yang tidak bisa diubah, dan sebaliknya jangan ngotot mempertahankan apa yang semestinya diubah.
  
Suatu ketika ada seorang yang berbadan “jumbo” datang kepada seorang dokter untuk minta obat diet yang paling manjur. Oleh Pak dokter, ia diberi sebotol pil-pil kecil yang banyak sekali jumlahnya. “Sehari 3 x ya , Pak”, kata dokter. “Berapa yang diminum, Dok”, tanya pasien ini. Dokterpun menjawab, “Oo ini bukan untuk diminum, Pak. Pil-pil ini harus bapak taburkan lalu bapak kumpulkan kembali, sehari 3 x saja, dijamin cepet kurus kok !”. Namanya diet, ya jangan cuma mengandalkan obat. Pinginnya kurus, tapi kalau masih “ngotot” mempertahankan selera makannya, ya sama juga bo’ong. Karena itu dibutuhkan kearifan untuk tahu mana yang harus diubah dan mana yang harus diterima sebagai kenyataan yang tidak bisa diubah. Dan ini tidak terlepas bagaimana memahami hubungan antara derita-menang; susah-senang.

Ada beberapa teori yang memandang hidup ini seperti “Gado-Gado” campur aduk antara yang senang dan susah, antara kemenangan dan penderitaan. Kaya gado-gado… kadang-kadang nyeplus lombok, kadang-kadang keno sayure, kadang-kadang telur… nah ini yang enak. Karena itu falsafah Jawa lalu mengatakan bahwa hidup itu bagaikan “Cakramanggilingan” Roda yang berputar, kadang kita di atas, kadang dibawah. Mereka yang menganut paham ini biasanya memiliki sikap fatalistis, nrimo, terima nasib. Inilah yang membat mereka bisa bertahan bahkan bersyukur. Kita tidak heran dengan ini ya ? Bukankah orang Jawa itu terkenal dengan “Bejo-ne”. Kalau ada yang kecelakaan…. Meskipun kakinya patah, orang bisa bilang “Bejo” cuma kaki kanan. Kalaupun kedua kaki yang patah, masih “Bejo”, nyawane slemet. Bahkan meskipun meninggal, orang Jawa masih bisa bilang “Bejo, mayite masih ada , daripada korban Adam Air atau Kapal Senopati Nusantara… mayate nggak ketemu”. Nah sekarang, bagaimana iman Kristen memandang ini ?

Banyak para ahli yang mengatakan bahwa yang disebut REALITAS (Kenyataan) itu ternyata tidak obyektif. Saya ambil contoh, buat saya Duren itu nikmat, namun durian yang sama bagi orang lain, jangankan makan, cium baunya saja mau muntah – makanya Duren masuk kategori “Buah Terlarang”. Lihat aja di hotel-hotel, nanti khan ada larangan “Dilarang membawa buah durian”; Pete itu enak bagi sebagian orang, namun bagi yang lain, bisa jadi adanya pete malah menghilangkan selera makan. Barangnya sama, realitas sama namun jika orang melihat dengan cara yang berbeda… maka jadi berbeda pula.

          Demikian juga hidup. Ada seorang yang mau beli rumah. Iapun melakukan suvey keliling rumah. Dan akhirnya ia berkata kepada penjualnya, “Rumah ini sebetulnya ideal, tata artistisnya juga menarik, namun sayangnya…. Rumah ini terkesan suram, kurang cahaya. Penjualpun berkata, “Pak, kalau mau lihat cahaya rumah ini baik atau tidak….. buka dulu kacamatanya. Hidup juga demikian. Hidup itu satu, namun kita bisa melihat berbeda tergantung kacamata kita. Kalau kacamata hitam, ya semua jadi suram.

          Pernah ada cerita tentang orang kaya yang stress sampai harus dirawat di Rumah Sakit. Orang berpikir kalau dia itu bangkrut, namun ternyata bukan itu. Orang ini stress, gara-gara mendengar bahwa bunga depositonya turun 10 %. Karena melihat dari kacamata gelap… ia tidak bisa melihat dengan jernih, akibatnya jadi stress itu tadi. Lain dengan Tukang Becak misalnya, Deposito saja nggak punya, namun mereka mudah tidur nyenyak, di atas Becakpun bagaikan di hotel berbintang lima. Tetap nikmat.
         
          Iman-kata Alkitab- adalah memandang hidup ini dari kaca mata Allah. Bukan dari sudut yang kelihatan namun dari yang tidak kelihatan. 2 Kor 4:18: “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal”.  Realitas Bayi Yesus di mata dunia adalah realitas derita, namun dari kacamata Allah justru dari realitas ini terpancar kemenangan Allah. Bukan bayinya, bukan kandangnya, tapi “Allah yang mau menjelma jadi manusia”.

          Saudara…Tidak perlu kita sangkal, dalam hidup ini memang ada derita, kesulitan, tantangan. Bahkan besar. Ada seorang Ahli yang berpendapat bahwa saat ini, obat yang sering dipakai kalau ada masalah, adalah obat yang disebut “Kambing Hitam”. Muncullah KKN sebagai kambing hitam penyebab kesulitan bangsa. KKN itu bukan Korupsi – Kolusi dan Nepotisme, tapi Kristen, Katholik, dan Non-Pribumi. Habis itu muncullah respon dengan lahirnya gerakan Full AC, yaitu Anti Christian, Anti Chinese dan Anti Conglomerat.

          Dalam salah satu kesempatan, Menteri Agama memberikan sambutannya (Pembukaan Sidang MPL-PGI) bahwa “Orang Kristen di Indonesia itu jumlahnya menurut sensus cuma 6,3 % sedangkan orang Katholik 3,8 %” Artinya apa ? Meskipun tak dijelaskan secara terbuka, namun secara implisit kita menangkap “Lha wong jumlah cuma sekian persen kok mau neko-neko. Tahu diri lah”….

          Tantangan kita tidak ringan. Tapi dengan kacamata iman, kita akan berkata seperti Paulus (2 Kor 4:17) : “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”. Sama seperti ibu yang bersalin. Sakit, kapok.. tapi kapok’e ya “Kapok Lombok”. Pingin lagi. Kok bisa ? Karena sakit itu jika dibandingkan karunia anak yang dimiliki, nggak ada apa-apanya. Sesungguhnya inilah inti yang dikatakan dalam Roma 8:37 tadi, bahwa Kita ini sebetulnya lebih dari orang yang menang, bukan karena tidak pernah kalah, menderita, bangkrut, kesulitan. Bukan. Namun kita menang oleh Dia. “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa (2 Kor 4:8-9)

          Justru inilah bukti kemenangan kita. Kita menang bukan karena mengalahkan pihak lain, kita menang karena kita mampu mengalahkan kecenderungan alamiah dan naluriah manusiawi kita. Apa itu ? Yaitu kecenderungan untuk putus asa saat kalah dan lupa daratan saat menang.

          Inilah yang disebut “Realisme yang Berpengharapan”, bahwa kita tidak menutup mata terhadap kenyataan, seperti burung onta (Jika menghadapi bahaya, ia menyembunyikan kepalalanya, namun lupa kalau “pantatnya” yang besar masih nongol. Ia merasa aman hanya karena “menutup mata”, padahal masalah masih ada. Kita melihat kenyataan sekalipun pahit, namun Dalam semuanya itu, kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang mengasihi kita”

          Jika memang demikian, bukankah sepantasnyalah kalau kitapun memiliki cara hidup dan gaya hidup sebagai pemenang ? Fakta yang menyedihkan adalah jika sebagai pemenang ternyata gaya hidup kita adalah “gaya hidup seorang pecundang”. Percaya sih percaya, namun tidak memberi makna apapun pada hidup. Ini khan menyedihkan. Padahal kata Agustinus, kalau mau cari Tuhan itu bagaikan orang tenggelam, cari udara. Cari dengan sungguh-sungguh, dengan sekuat tenaga dan kemampuan.             Para seniman serius dengan karyanya. Para Pedagang serius dengan usahanya. Para professional serius dengan kariernya. Tetapi apakah orang Kristen serius dengan imannya ?

          Kita adalah orang-orang yang lebih dari pemenang. Tapi mana ada kemenangan tanpa peperangan, mana ada kemenangan tanpa perjuangan ? Karena itu, jika percaya pada Tuhan… seriuslah dengan imanmu, maka engkau akan menikmati kemenangan yang Tuhan anugerahkan kepadamu.


Amin
  With Love in Christ
"Hitherto the Lord has helped us."
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw