NUANSA IMAN

KOMUNITAS KELUARGA ALLAH YG DEWASA & BERTUMBUH DALAM SEGALA HAL KE ARAH KRISTUS
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

JOKOWI – AHOK FENOMENA



JOKOWI-AHOK. Pemilihan Gubernur DKI yang baru, 20 September 2012 ternyata berjalan sangat fenomenal dengan munculnya calon baru yang mampu menarik simpati para penduduk Jakarta, bahkan menarik perhatian masyarakat Indonesia yang lebih luas. Calon Gubernur yang semula menjabat sebagai Walikota Solo ini tampil “low profile” dengan pendekatan persuasif yang langsung menjangkau masyarakat DKI kalangan bawah. sedangkan A-Hok (Basuki Tjahja Purnama) merupakan calon Wakil Gubernur yang berasal dari “kelompok” yang sempat ter-alienasi beberapa waktu yang silam karena lengkaplah prinsip “Full AC” pada dirinya, yaitu sebagai orang yang tidak di sukai oleh mereka yang “ANTI” terhadap “China, Christian, Conglomerat”. Bahkan pernah muncul tudingan bahwa A-Hok akan menjadi orang China yang meng-kristenkan Jakarta. Pihak FPI bahkan menuntu A-Hok supaya menjadi Islam. Whatever....pada akhirnya toh kedua sosok fenomenal ini terpilih menjadi Gubernur dan wakil gubernur DKI Jaya dalam pemilihan pada tgl. 20 September 2012 mengalahkan pasangan “berkumis” Foke-Nara.

Bahkan lebih dari itu, Jokowi – Ahok membuktikan diri dengan membangun “Jakarta Baru” melalui keberpihakan mereka kepada kaum lemah. Birokrasi dipermudah, Kartu Sehat dan Kartu Pintar dimunculkan, budaya korupsi dalam penyusunan proyek mulai di tekan dan di tentang. Semoga motivasi dan pelayanan mereka tetap eksis dan konsisten, meskipun godaan banyak dan tantangan tidak kalah banyak.

Ketika fenomena Jokowi – Ahok ini merebak ke se-antero Nusantara, muncullah gambar-gambar unik, menarik di BBM maupun FB. Inilah beberapa gambar unik yang masuk di BBM saya, tentunya masih ada “buuuaanyaak” gambar ;lain yang lebih menarik.   Gambar-gambar ini saya muat sebagai kenangan betapa “seru”-nya saat-saat itu.



Pati, 19 November 2012

God Bless You

"Hitherto the Lord has helped us."
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw





Andai Jokowi Berkumis, mungkin kayak ini ya ?

Jumat, 10 Desember 2010

KEMANDIRIAN BERTEOLOGI


Tunggul Wulung dikategorikan orang sakti oleh sebagian orang-orang di wilayah Jepara. Kesaktian beliau di antaranya : mampu menempuh perjalanan jauh ( Jepara – Pati, sekitar 40 km ) dalam waktu 10 menit berjalan kaki. Cerita yang lain menyebutkan bahwa Tunggul Wulung mampu berkotbah dalam waktu dan jam yang sama di dua tempat yang berbeda (artinya : beliau bisa memecah dirinya menjadi dua).
 
Terdapat lebih banyak lagi cerita tentang kesaktian dan hal-hal spektakuler yang beliau kerjakan yang beredar di khalayak. Tunggul Wulung juga mengajarkan dan mempraktekkan cara-cara kekristenan yang berbeda dengan kekristenan umum ( barat ). Tidak mengherankan jika mantram, ubo rampe kembang menyan, dan lain sebagainya merupakan hal yang lazim dalam praktek hidup kekristenan Tunggul Wulung.
 
Secara garis besar, Tunggul Wulung mempraktekkan kekristenan yang “njawani”. Kebetulan Tunggul Wulung adalah seorang pribumi asli yang “mengenal Kristus” karena mendapatkan panggilan langsung melalui laku. Tunggul Wulung tentang perkenalan dan pemahamannya tentang Yesus Kristus, Alkitab dan Kekristenan dapat dikategorikan “mandiri”, terbatas dalam singgungan dan masukan dari konsep-konsep Teologia Kristen barat. Tunggul Wulung menghasilkan pandangan teologis dan praktek hidup kekristenan berdasarkan Alkitab yang diinterpretasikan berdasarkan konsep-konsep filosofis Timur ( Jawa ).
 
Tunggul Wulung sebagai seorang Kristen berperilaku selayaknya orang Timur. Konsep-konsep pemikiran Tunggul Wulung tentang Yesus, Alkitab dan kekristenan “seringkali dianggap miring” oleh sebagian orang. Tunggul Wulung dianggap mistis, klenik, sinkretis dan lain sebagainya. Pandangan miring tersebut seringkali ditegaskan dengan dukungan dukungan praktek hidup “sakti” Tunggul Wulung yang seringkali dipertanyakan : apakah dari Tuhan atau dari bukan Tuhan.
 
Menarik sekali menanggapi justifikasi “miring” yang dikenakan kepada Tunggul Wulung oleh sebagian orang. Justifikasi ini tentu didasarkan sebuah “paradigma berpikir” yang menjadi “standart acuan”. Dengan kata lain, penilaian ketidaklaziman Tunggul Wulung ini muncul dari “sebuah kelaziman umum” yang ada di pikiran para penilai. Kelaziman tersebut adalah standart yang telah ada.
 
Apakah standar kelaziman tersebut? Standar kelaziman tersebut adalah system interpretasi barat yang menghasilkan teologia dengan frame “barat”, dan praktek-praktek hidup barat yang timbul dari system interpretasi dan “teladan barat”. Konsep barat, entah Eropa atau Amerika telah menjadikan dirinya “seolah-olah” Alkitab itu sendiri. Praktek-praktek kekristenan ala Barat seolah-olah merupakan sebuah praktek hidup Kekristenan yang benar. Akibatnya : “segala sesuatu di luar kelaziman Barat” dianggap sumir. Pertanyaannya adalah : apakah memang demikian? Pendapat teologi yang teraplikasi dalam hidup mau tidak mau merupakan hasil interpretasi yang dibangun dari sebuah paradigma berpikir.
 
Demikian halnya pendapat teologia barat yang menghasilkan praktek-praktek hidup kekristenan adalah produk “paradigma pikir Eropa”. Ketika Alkitab ini ditafsir oleh orang-orang barat dengan paradigma pikir mereka merupakan sesuatu yang sah. Tetapi ketika produk interpretasi ini dijadikan sebuah standar acuan kebenaran, tentu perlu dipertanyakan dan dipertentangkan. Alkitab tidak sama dengan Barat.
 
Kekristenan yang benar tidak sama dengan kekristenan ala Barat. Kekristenan “produk Barat” sah bagi orang-orang Barat, tetapi belum tentu pas dan relevan dengan orang-orang Kristen di Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia tidak sama dengan barat. Produk teologia semestinya relevan dengan manusia pelakunya.
 
Kristen Indonesia semestinya menerapkan praktek hidup Kristen berdasarkan produk teologia yang sesuai dengan frame keIndonesiaan. Kekristenan Indonesia dan produk teologianya yang berbeda dengan “Barat” tidak berarti menyimpang. Berbeda iya, kalau salah tidak. Sangat naïf jika memaksakan kebenaran Barat bagi Timur ( Indonesia ).
 
Apa yang dipikirkan dan dikerjakan oleh Tunggul Wulung merupakan sebuah kemandirian. Berteologi dan bertindak Kristen sesuai ala berpikir Timur ( Indonesia ). Tidak semestinya jika paradigma Barat menjadi standar justifikasi bagi keindonesiaan Tunggul Wulung. Teologia Barat punya hak hidup dan wilayahnya sendiri, demikian pula teologia Kristen Timur punya hak dan wilayahnya sendiri. Istilah mistik, klenik, dan sinkretis yang dikenakan kepada Tunggul Wulung merupakan sebuah arogansi “paradigma Barat” terhadap teologia Timur. Kata lain : keserakahan rasionalisasi Barat terhadap tata pikir Ketimuran.
 
Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan. Berinterpretasi dan berperilaku Timur merupakan hak dan keharusan Kekristenan Timur. Hak ini sama diberikan kepada orang-orang Kristen Barat untuk bebas berinterpretasi dan berperilaku Barat. Kemandirian berteologi,berinterpretasi dan berperilaku dalam konteks merupakan hak dan juga kewajiban. Tujuannya supaya kekristenan membumi di mana dia berada.
 
Karena sesungguhnya, demikianlah semestinya Alkitab dihidupkan oleh setiap manusia di mana saja dia berada, sesuai dengan konteks budaya masing-masing. Mari berteologia dan berinterpretasi dalam konteks secara lebih percaya diri. Yesus Kristus empunya semesta raya dengan segala kekhasannnya masing-masing, memberkati.





God Bless You

"Hitherto the Lord has helped us."
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw

Senin, 18 Oktober 2010

KESAKSIAN LYDIA KANDAU

Kehidupan artis atau selebritis tak pernah lepas dari gosip. Demikian ungkapan yang sudah mengakar di khalayak umum. Hal ini bisa dimaklumi, karena bagaimana pun artis adalah public figure. Demikian halnya yang dialami oleh artis cantik Lydia Kandau.

Kesibukannya dalam pelayanan telah membuatnya seperti tenggelam dari keartisannya.Walau demikian, label artis yang telah disandangnya masih melekat. Saat ini ia kerap diminta bersaksi di berbagai denominasi gereja. Bahkan baru-baru ini ia mengikuti suatu perjalanan ziarah ke Yerusalem.

Istilah cinta buta mungkin dialami oleh wanita berdarah Manado ini. Kisah cintanya dengan pria yang tidak seiman berakhir di pelaminan, sekalipun sempat ditentang oleh pihak keluarga.

Tapi ia nekad, atas dasar cinta ia menikah dengan Jamal Mirdad, seorang penyanyi. Hari-hari yang dilaluinya setelah pernikahan terasa begitu indah. Sebagai umat Kristus, seharusnya ia pergi ke gereja di hari Minggu. Tapi Lydia tidak. Bersama suami tercinta, ia kerap mengisi hari-hari Ahadnya dengan jalan-jalan, nonton, atau shopping dan sebagainya.

"Makin lama rasanya kok makin jauh dari Tuhan," ungkapnya.

Namun, pikiran seperti itu tidak cukup membuatnya berbalik pada Tuhan. Ia seolah menikmati semua itu.

Anaknya Sakit Aneh 
Sampai saat anak keduanya mengalami sakit 'aneh'. "Syaraf kiri anak saya abnormal," tuturnya. Ia langsung membawanya ke rumah sakit dengan keyakinan setelah ditangani dokter pasti anaknya sembuh. yang terjadi justru sebaliknya. Makin lama kondisi anaknya semakin parah.

"Seperti obat-obat yang diberi dokter tidak mempan terhadap penyakitnya. Anak saya seperti mau mati. Matanya tidak mau terbuka," kisahnya. Akhirnya diputuskan untuk membawa anaknya pulang ke rumah.

"Saya menangis dan menangis sambil membaringkan anak saya di tempat tidur. Saya merenung dan larut dalam kebisuan. Seketika saya teringat akan dosa-dosa saya dulu. Saya tidak setia kepada Tuhan. Padahal Tuhan sudah begitu baik ada saya," akunya. Seketika itu juga, ia berdoa sambil bercucuran air mata. Minta ampun atas segala dosa dan ketidaksetiaannya. Ia betul-betul merasa telah mendukakan hati Tuhan.

"Luar biasa ternyata," ungkapnya. Sesaat ia katakan amin, hati dan batinnya terasa lega sekali. "Plong rasanya. Saya yakin darah Yesus telah menghapus dosa-dosa saya," tuturnya sumringah.

Lalu ia melihat anaknya yang masih terbaring dalam keadaan yang memprihatinkan. Air matanya jatuh lagi. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil mengelus-elus kepala anaknya. Batinnya berkata, "Tuhan, aku tahu Engkau telah menghapuskan dosaku. Saat ini juga ya Bapa, jikalau Engkau mengasihi aku, tolong sembuhkan anakku. Aku percaya sepenuh jiwa, Engkau sanggup melakukan semua itu. Sebab segala perkara dapat kutanggung di dalam Engkau."

Usai berdoa, ia memuji-muji Tuhan dengan kidung pujian yang tiada putus-putusnya. "Saya berjanji bahwa saya tidak akan pernah berhenti memuji Tuhan sampai Tuhan sembuhkan anak saya," paparnya. Ternyata ajaib, satu jam berselang, mata anaknya perlahan mulai terbuka. "Perlahan, tapi pasti mata anak saya terbuka. Lalu ia bangun dari tempat tidur. Ajaibnya, di wajahnya tidak ada gambaran kesakitan. Padahal ia baru saja mengalami suatu penyakit yang luar biasa berat untuk anak seusianya. yang terlukis di wajahnya adalah sukacita. Sungguh ini suatu mujizat.

Saya langsung memeluk anak saya sambil berkata: "Terima kasih Tuhan," urainya. Sejenak diajaknya anaknya berdoa bersama. Mengucap syukur atas kesembuhan yang hanya datang dari Allah. "Tuhan sudah mendengar doa saya," ujarnya saat itu.

Setia Melayani
Sejak kejadian itu, ia berjanji akan setia melayani Tuhan.
"Saya ingin menceritakan kepada semua orang, bahwa Tuhan itu sungguh baik adanya," tukasnya. Ternyata badai itu belum berlalu. Sang suami belum merestui kemauannya untuk kembali ke gereja. Apalagi harus membawa anak-anaknya.

"Terpaksa dulu saya berbohong. Membawa anak-anak dengan alasan nonton, renang, jalan-jalan, dan macam-macam. Padahal sebelum atau sesudah kegiatan itu kami ke gereja. Habis kalau tidak begitu, mana bisa saya ke gereja," kilahnya.

Kami, lanjutnya, harus main petak umpet. Alkitab dulu biasanya disimpan. Bacanya juga menunggu Jamal pergi. "Terus terang saya tersiksa dengan keadaan seperti itu," akunya. Tapi ia sudah punya komitmen, bahwa ia tidak akan menjual Tuhan Yesus karena apa pun juga. Lama-kelamaan Jamal mulai berubah. Ia semakin menghargai saya. Ia pernah mengatakan tidak melarang saya atau anak-anak ke gereja.

"Sukacita sekali saat saya mendengar itu," cetusnya. Lydia memang punya komitmen bahwa anak-anak harus ikut ibunya. Walaupun dua anaknya bersekolah di Al-Azhar, tapi setiap Minggu, mereka pasti ke gereja.
"Ketika saya mulai pelayanan pun, Jamal tidak melarang. Ia cuma katakan sebaiknya pelayanan di dalam kota saja. Tidak usah sampai ke luar kota," jelasnya.

Isu Dis-Harmoni
Isu yang sempat menerpa pemeran "Merry" dalam sinetron "Gara-Gara" bersama Jimmy dan Sion Gideon ini adalah disharmoni keluarga. Bahkan dikabarkan kehidupan rumah tangganya retak. Ketika dikonfirmasikan dengan tegas Lydia mengatakan tidak benar demikian. "Jamal itu punya kasih. Bahkan mungkin lebih baik dari orang Kristen sendiri. Ia takut akan Tuhan. Pada dasarnya, ia ingin dihargai, oleh sebab itu ia pun tahu harus menghargai orang lain yang berbeda dengan dia," ungkapnya.

Lalu apakah Jamal mendukung pelayanan Lydia yang nampaknya kian hari intensitasnya kian padat?
"Mendukung tidak, melarang juga tidak," ujarnya. Saat ditanya apakah pernah ribut-ribut soal agama di rumah, ia menjawab, "Tidak. Tidak pernah. Kami tidak mau mempersoalkan agama. Itu hak masing-masing.

Lydia juga menambahkan kalau akhir-akhir ini Jamal sering tanya-tanya tentang firman Tuhan. Bahkan Jamal beberapa kali meminta Lydia membacakan Alkitab sebelum tidur. "Kalau saya marah, Jamal selalu mengingatkan, katanya "kasih," jelasnya.

Apakah suatu hari Jamal akan masuk Kristen?

"Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan,"





MENGENAL LIDYA & JAMAL
Lydia Kandou yang bernama lengkap Lydia Ruth Elizabeth Kandou (lahir di Jakarta, 21 Februari 1963) adalah seorang aktris Indonesia. Tidak kurang sudah 25 tahun, ia hadir menyemarakkan dunia perfilman Indonesia.

Ia lahir di Jakarta tetapi punya hubungan darah Manado - Belanda. Kehidupan yang dijalaninya terbilang tidak mulus. Sejak kecil sering sakit-sakitan, tidak boleh terlalu gembira, tidak boleh kaget dan terlalu sedih. Akibatnya, ia selalu dipisahkan oleh ibunya dari kakak-kakaknya dan dilarang bermain dengan saudara-saudara dan teman-temannya. Awalnya, ia sedih dan tak mengerti mengapa ibunya bersikap demikian. Akhirnya dia memahami bahwa apa yang dilakukan ibunya adalah untuk kebaikannya semata.
Akibat terlalu banyak menyendiri, ia tumbuh menjadi gadis pemalu dan tampil sederhana dalam bersikap maupun penampilan. Tawaran menjadi model menjadi terhambat karena sifat yang pemalu tadi. Kariernya bisa diraih setapak demi setapak terlalui atas usaha orang-orang yang sabar membinanya. Ibunya selalu mendukung dan memberikan motivasi kepadanya. Sejak SMP, Lydia sudah mengenal kebiasaan merokok. Selain, suka makan. Untuk menjaga kondisi tubuhnya, ia melakukan kegiatan senam dan berenang. Memasak adalah kegemarannya.

Pada tahun 1986 Lydia Kandou menikah dengan Jamal Mirdad. Peristiwa ini menjadi begitu kontroversial, karena perbedaan agama. Lydia Kandou yang beragama Kristen dan Jamal Mirdad yang beragama Islam.


Jamal Mirdad (lahir di Kudus, Jawa Tengah, 7 Mei 1960) adalah seorang penyanyi senior Indonesia. Ia juga pernah bermain di beberapa film bersama istrinya, Lidya Kandou (misalnya Ramadan dan Ramona).

Jamal dan Lidya di karunia 4 orang anak, yaitu Nana Mirdad,  Kenang Kana, Naysila Mirdad dan Nathana Ghaza. Nana dan Naysila mengikuti jejak ayah dan ibunya masuk dalam dunia selebritis.

Saat ini Jamal turut terjun dalam dunia politik dengan menjadi anggota DPR (terpilih) 2009-2014 dari Partai Gerakan Indonesia Raya


















Hanna Natasya Maria Mirdad (Nana Mirdad)     dan  Naysila Mirdad


God Bless You

"Hitherto the Lord has helped us."
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw