NUANSA IMAN

KOMUNITAS KELUARGA ALLAH YG DEWASA & BERTUMBUH DALAM SEGALA HAL KE ARAH KRISTUS

Kamis, 06 Desember 2012

HADIAH NATAL YANG MAHAL

Penulis cerpen Amerika terkemuka, O. Henry, menulis sebuah kisah Natal tersohor. Kisah itu tentang sepasang suami-istri muda yang sedemikian saling mencintai. Natal sudah dekat dan mereka ingin saling memberikan hadiah. Tetapi mereka sangat miskin dan tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah. Maka mereka masing-masing, tanpa saling memberi tahu, memutuskan untuk menjual miliknya yang paling berharga.

Bagi sang istri, harta miliknya yang paling berharga adalah rambutnya yang panjang berkilau. Ia pergi ke sebuah salon dan menyuruh memotong rambutnya. Kemudian ia menjual potongan rambutnya itu untuk membeli sebuah rantai arloji yang indah untuk arloji suaminya. Sementara itu, sang suami pergi kepada seorang tukang emas dan menjual satu-satunya arloji yang dimilikinya untuk membeli dua potong sisir yang indah untuk rambut kekasihnya.




Ketika hari Natal tiba, mereka saling menyerahkan hadiah. Mula-mula mereka menangis terharu, namun kemudian keduanya tertawa. Tidak ada lagi rambut yang perlu dirapikan dengan sisir indah pembelian sang suami, dan tidak ada lagi, arloji yang memerlukan seutas rantai indah pembelian sang istri. Tetapi ada sesuatu yang lebih berharga daripada sisir dan rantai arloji, yaitu pesan dibalik hadiah- hadiah itu; Mereka masing - masing telah mengambil yang terbaik dari dirinya untuk diberikan kepada pasangannya...

Suatu hadiah bukanlah hadiah jika tidak menimbulkan suatu pengorbanan dalam diri kita, dan jika tidak menjadi bagian dari diri kita sendiri. Yesus memberikan dari-Nya yang terbaik untuk kita. Ia memberikan nyawa-Nya, untuk menebus dosa - dosa kita, untuk menyelamatkan hidup kita, supaya bisa tetap bersama dengan Dia untuk selama-selamanya. Apa yang aku berikan kepada-Nya yang terbaik, dariku..?
"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat - sahabatnya. Kamu adalah sahabat-KU, jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu." (Yohanes 15 :13, 14)



With Love in Christ
 Daniel Kurniawan

HADIAH NATAL YANG ISTIMEWA


Hari Natal merupakan saat yang tepat untuk memberi hadiah kepada orang-orang yang dicintai. Oleh karenanya, bukan suatu pemandangan yang aneh jika menjelang Natal kebanyakan toko penuh dengan pengunjung.

Karen, ibu dari lima anak yang tinggal di West Hazleton, Pennsylvania, juga ingin melakukan hal yang sama.
Sebagai ibu yang baik, Karen sangat ingin memberikan hadiah kepada Amanda, anak sulungnya. Setelah dipikir-pikir, akhirnya Karen memutuskan untuk menghadiahkan banjo kepadanya.

Ia pun mulai mencari barang yang diinginkan tersebut. Hampir semua toko yang ada di kotanya didatangi. Namun sayang sekali, banjo idaman itu tidak ditemuinya. Entah kenapa barang itu sangat laris. Ibu yang sangat menyayangi anaknya ini tetap tidak berputus asa, ia mencoba mencari di situs internet. Lagi-lagi, usahanya itu gagal. Akhirnya, ia menelepon beberapa teman untuk membantu mendapatkan banjo itu.

Di suatu kota lain, salah satu teman Karen melihat banjo tersebut di pamflet yang diiklankan oleh suatu pertokoan. Setelah mengikuti Pemahaman Alkitab di gerejanya, ia langsung ke toko tersebut.

Di sana sudah banyak orang antre untuk masuk ke toko. Ia lalu ikut antre di luar bersama orang-orang itu. Setelah masuk, ia bersama tunangannya, Susan, mulai mencari banjo tersebut. Namun setelah mengelilingi hampir semua sudut, banjo yang diinginkan itu tidak ditemuinya. Teman Karen ini menjadi sedikit kesal karena banjo itu dipampang dalam pamflet iklan toko tersebut, sedangkan barangnya tidak ada.

Tiba-tiba, seorang pramuniaga memberikan banjo yang sangat diinginkan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Teman Karen itu pun langsung mengucapkan terima kasih namun sang pramuniaga itu tidak membalas ucapannya, ia tetap membisu. Ia memperhatikan nama yang tertempel di dadanya, tertulis nama Karen. Setelah menerima banjo dari pramuniaga misterius tersebut, ia dan Susan langsung menuju kasir untuk membayarnya.

Kasir toko itu sangat terkejut lalu bertanya, dari mana mereka mendapatkan banjo tersebut. Ia kemudian menjelaskan bahwa toko itu sudah kehabisan banjo selama beberapa hari. Kejadian itu membuat geger toko yang sedang ramai pengunjung itu. Apalagi setelah ia menyebutkan bahwa pramuniaga yang memberikan banjo itu bernama Karen. Mereka semua menjadi bingung karena karyawan toko tersebut tidak ada yang bernama Karen.

Susan pun berkata bahwa ia tidak melihat fisik Karen, si pramuniaga misterius itu. Namun ia melihat ada sinar berjalan melalui koridor sisi lain toko tersebut ketika ia sedang mencari banjo tersebut.

Mendengar cerita yang sangat mengharukan itu, tunangan Susan langsung merasa sangat gembira. Ia lalu menelepon Karen, temannya yang sedang bingung mencari hadiah yang cocok untuk anaknya itu. Karen sangat senang mendengar kabar bahwa banjo yang sangat diinginkan oleh Amanda itu akhirnya didapatkan.

Rasa bahagia Karen pun berubah menjadi rasa haru, bahkan ia pun menangis ketika mendengar cerita tentang sinar dan pramuniaga misterius yang baik hati itu. Karen dan temannya itu sangat percaya bahwa yang memberikan hadiah itu adalah malaikat sendiri.





With Love in Christ
 Daniel Kurniawan

 

HADIAH NATAL UNTUK ALMA



Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini.

Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.

Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak.
Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

 
Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,"Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya". Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang  ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan  yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek "April in Paris" dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. "Christine," pendeta memanggil sebuah nama,"kado ini untukmu". Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.

Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda  biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan  dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907.  Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi  sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang  bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
 Judul asli "LITTLE ALMA'S CHRISTMAS PRESENT".
Oleh Mariane Holbrook
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman. Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.


 
With Love in Christ
"Hitherto the Lord has helped us."
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw